Garda Marhaenis Muda Sulut Ajak Generasi Muda Perkuat Nasionalisme di Momentum Sumpah Pemuda

oleh -40 Dilihat

MAESANEWS, MANADO – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk memperkuat nasionalisme, persatuan, dan karakter kebangsaan dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.

Ketua Garda Marhaenis Muda Sulawesi Utara, Golfinger Kalensang, menegaskan bahwa semangat nasionalisme Indonesia menjadi salah satu fondasi penting dalam menjawab berbagai persoalan bangsa, mulai dari ancaman disintegrasi hingga tantangan kemandirian ekonomi dan kebudayaan.

Menurut Kalensang, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa bersejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan tonggak penting yang mencerminkan kesadaran kolektif pemuda Indonesia untuk bersatu dalam cita-cita kebangsaan.

“Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 harus dimaknai secara mendalam oleh seluruh anak bangsa. Melalui momentum ini, semangat nasionalisme Indonesia kembali diteguhkan sebagai kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan yang mengancam persatuan dan kemandirian bangsa,” ujar Kalensang.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini memiliki karakter berbeda dibandingkan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu bangsa Indonesia berhadapan dengan kolonialisme dalam bentuk penjajahan langsung, kini tantangan berkembang melalui berbagai dimensi, termasuk ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, Kalensang mengaitkan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mengenai neokolonialisme dan imperialisme (Nekolim). Menurutnya, dominasi terhadap suatu bangsa dapat berlangsung melalui mekanisme ekonomi, pengaruh politik, maupun penetrasi kebudayaan tanpa harus melalui penjajahan secara langsung.

Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menghadapi potensi disintegrasi bangsa, pengelolaan sumber daya alam, serta melemahnya kesadaran nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi.

“Bangsa ini harus mampu membaca berbagai tantangan yang dapat mengancam kemandirian nasional. Pengelolaan kekayaan alam harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat, sementara semangat kebangsaan perlu terus diperkuat agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan global,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kalensang menekankan bahwa penguatan nasionalisme tidak boleh berhenti pada seremoni peringatan hari besar nasional. Menurutnya, diperlukan langkah nyata dan berkelanjutan untuk membangun karakter bangsa, memperkuat solidaritas sosial, serta memastikan pembangunan ekonomi dan kebudayaan tetap berpihak pada kepentingan nasional.

Ia juga mendorong aktualisasi kembali gagasan Nation and Character Building atau pembangunan bangsa dan karakter yang pernah digaungkan oleh Soekarno.

Bagi Kalensang, pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga harus disertai pembentukan karakter masyarakat yang berlandaskan kesadaran sejarah, integritas, semangat gotong royong, dan kepedulian terhadap kepentingan rakyat.

“Nasionalisme harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bukan hanya mencintai Indonesia secara simbolis, tetapi juga menjaga persatuan, memperjuangkan keadilan sosial, mengawal kekayaan alam agar bermanfaat bagi rakyat, serta membangun karakter generasi muda yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, generasi muda memiliki peran strategis dalam memastikan nilai-nilai Sumpah Pemuda tetap relevan di tengah perubahan zaman. Karena itu, pemuda tidak hanya dituntut memahami sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga mengambil bagian aktif dalam menjawab persoalan sosial, ekonomi, dan kebangsaan.

Secara khusus, Kalensang mengajak generasi muda Sulawesi Utara menjadikan peringatan Sumpah Pemuda ke-98 sebagai momentum untuk mempererat persatuan di tengah keberagaman serta meningkatkan kontribusi dalam pembangunan daerah dan nasional.

Menurutnya, nasionalisme yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Ia menegaskan, semangat persatuan harus tercermin dalam sikap saling menghormati perbedaan, memperkuat solidaritas, serta membangun komitmen bersama untuk mewujudkan keadilan sosial.

“Semangat Sumpah Pemuda harus terus hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan generasi muda. Dengan nasionalisme yang kuat, karakter bangsa yang kokoh, serta komitmen terhadap keadilan sosial, Indonesia dapat menghadapi tantangan global tanpa kehilangan arah dan jati dirinya,” tutup Kalensang.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan, meneguhkan persatuan, dan mendorong peran aktif generasi muda dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkeadilan sosial. (Eca)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.